JURUS SPEGA, Inovasi SMP Negeri 3 Probolinggo Sulap Jeruk Purut Jadi Produk Bernilai Ekonomi

KOTA PROBOLINGGO – Potensi tanaman jeruk purut yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai tanaman penghias di lingkungan sekolah kini disulap menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi melalui inovasi JURUS SPEGA (JeRUk PuRUt Siswa). Inovasi yang dikembangkan oleh UPT Satuan Pendidikan SMP Negeri 3 Kota Probolinggo ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan pendidikan, kewirausahaan, ketahanan pangan, serta pelestarian lingkungan.

JURUS SPEGA lahir dari keprihatinan terhadap belum optimalnya pemanfaatan tanaman jeruk purut yang tumbuh subur di lingkungan sekolah. Sebelum program ini dijalankan, sebagian besar buah jeruk purut hanya dimanfaatkan sebagai bumbu dapur, bahkan banyak yang dibiarkan membusuk tanpa memberikan nilai tambah bagi sekolah maupun peserta didik. Melalui inovasi tersebut, tanaman lokal tersebut diolah menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi media pembelajaran kontekstual bagi siswa.

Kepala UPT SMP Negeri 3 Kota Probolinggo, Sumantri, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa JURUS SPEGA tidak hanya berorientasi pada hasil produk, tetapi juga membangun karakter dan kompetensi peserta didik.

"Kami ingin mengubah cara pandang siswa terhadap potensi yang ada di sekitar mereka. Jeruk purut yang sebelumnya dianggap biasa saja ternyata dapat diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomi. Melalui JURUS SPEGA, siswa belajar mulai dari mengenali potensi, mengolah bahan baku, mengemas produk hingga memasarkannya. Dengan demikian mereka memperoleh pengalaman nyata yang tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan kepedulian terhadap lingkungan," ujar Sumantri, S.Pd., M.Pd.

Pelaksanaan inovasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari inventarisasi tanaman jeruk purut yang ada di lingkungan sekolah, penyusunan konsep kegiatan, pelatihan kepada peserta didik, proses produksi, pengemasan, pemasaran hingga evaluasi untuk pengembangan produk secara berkelanjutan. Seluruh tahapan tersebut melibatkan siswa secara aktif sehingga pembelajaran berlangsung melalui praktik langsung (learning by doing).

Melalui inovasi ini, peserta didik berhasil menghasilkan beragam produk olahan seperti sirup pokak berbahan dasar jeruk purut, puding atau agar-agar, peyek, serta berbagai produk olahan lain yang memiliki nilai jual. Selain meningkatkan kreativitas siswa, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman dalam proses produksi, pengemasan, hingga pemasaran produk kepada masyarakat.

Menurut Sumantri, inovasi JURUS SPEGA juga menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis proyek yang mendukung penguatan karakter peserta didik.

"Kami berharap melalui program ini lahir generasi yang kreatif, inovatif, mandiri, dan mampu melihat peluang usaha dari potensi lokal. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun keterampilan hidup yang bermanfaat bagi masa depan peserta didik," tambahnya.

 

Selain menghasilkan produk unggulan sekolah, JURUS SPEGA juga memperkuat budaya inovasi di lingkungan SMP Negeri 3 Kota Probolinggo. Program ini berhasil meningkatkan pemanfaatan tanaman jeruk purut yang sebelumnya kurang bernilai menjadi komoditas produktif, memperkuat kolaborasi antara sekolah dengan berbagai pemangku kepentingan, serta menjadi praktik baik (best practice) yang berpotensi direplikasi oleh sekolah lain di Kota Probolinggo maupun daerah lainnya.

Melalui inovasi JURUS SPEGA, SMP Negeri 3 Kota Probolinggo menunjukkan bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber pembelajaran yang inovatif sekaligus memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan. Program ini menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menghadirkan solusi nyata melalui kreativitas peserta didik dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.